Jangankan narkoba: air sajapun memabukkan kalau sekali minum setengah drum. Nasi, rujak cingur, rawon, pecel, semua memabukkan jika tidak dikontekstualisir secara ruang dan waktu.
Maka narkoba itu 10x lipat setan iblis efektifitasnya untuk memajnunkan manusia. Narkoba itu melebihi neraka, dan pemakai narkoba adalah manusia terbodoh tiada tara.
Di dalam neraka saja orang kesakitan tersiksa tetapi memiliki kemuliaan karena sedang menjalani hukuman alias pembersihan. Orang bersalah yang dihukum itu harus bangga karena memang demikianlah yang benar. Salah + tidak dihukum = Salah kwadrat. Salah + dihukum = Benar. Orang yang dipenjarakan dan dimasukkan neraka berarti menjalankan kebenaran.
Akan tetapi sejahat-jahat dan sebodoh-bodoh pemakai narkoba masih jauh lebih bodoh dan lebih jahat para inisiator dan penyebar narkoba. Narkoba adalah senjata paling ampuh dibanding segala rudal dan bom jenis mutakhir.
Kalau negara adikuasa menjatuhkan bom di Surabaya maka sepanjang hidup negara pengebom itu dikutuk oleh sejarah. Tetapi kalau narkoba yang membunuh satu atau dua generasi muda Indonesia yang jumlahnya melebihi penduduk Surabaya; tidak ada yang dikutuk selain narkoba itu sendiri.
Narkobanya dibajingan-bajingankan, tapi pelaku dibelakangnya bisa justru menjadi public figure, tokoh panutan, duta keselamatan masyarakat atau apapun.
Artikel digesek dari Harian Surya, pagi ini. Aslinya ditulis oleh Emha Ainun Nadjib.
